Monday, June 13, 2011

Hati (Bagian Kedua)

Aku kadang tidak suka hati. Meskipun hebat, dia labil dan sering berjalan bermusuhan dengan pikiran. Sama seperti kamu. Kadang aku tidak suka kamu.

Seperti malam ketika bulan sedang purnama, di Legian, Bali. Aku duduk di depan Circle K, melamun sambil mengamati wisatawan yang berpakaian putihputih. Disampingku ada kamu. Kamu cerewet sekali ketika itu, kamu banyak bercerita tentang hal itu. Hal yang sebenarnya tidak layak hatiku dengar. Hati masih luka. Dia belum sekuat pikiran.


Dia luka, patah, lalu seperti ingin marah. Kamu tidak salah.


Kalau hatimu luka, mungkin artinya ia sedang beranjak dewasa. Biarkan ia luka, biarkan ia dewasa. Kalau hatimu luka, ia sedang belajar untuk menjadi kuat. Kalau hatimu patah, ia sedang belajar untuk menopang lebih tangguh - Theoresia Rumthe -



Jakarta, 17 Mei 2011

Melati Suci

Perempuan berambut panjang yang kemarin aku temui sudah kembali ke tempat kelahirannya. Sedikit merasa kesepian, tapi aku tidak bisa biarkan kamu di sini terus. Kamu suka hening, hidupmu teratur, tidak minum alkohol, dan sangat menjaga makanan yang kamu konsumsi setiap hari. Kamu itu luar biasa. Aku susah melukiskan kamu.

Setiap katamu kemarin adalah tamparan. Padahal katakatamu sederhana, sesederhana dirimu. Dalam perjalanan pulang, hatiku diam, mencerna katakatamu, lalu kutaruh di tempat yang sangat spesial, di pikiranku.


Malam ini aku mendapatkan kesimpulannya, bahwa semua sudah diciptakan berpasangan, seperti manis dan pahit; senang dan sedih. Aku tidak perlu takut, hanya harus lebih berserah kepada kekuatan yang lebih besar. Memaafkan diri sendiri, ikhlas, lalu berserah. Itu saja.


Kamu itu putih, seputih melati, melati yang suci. Kita pasti akan dipertemukan lagi. Berbincang tentang hidup, mimpi, filosofi kuda, filosofi pintu, dan beruang kutub. Aku akan cari tempat yang bebas asap rokok dan tidak pulang pagi. Sampai bertemu kembali.



Jakarta, 8 Mei 2011

* Picture : Deviantart

2011

Tahun ini, dua ribu sebelas, adalah tahun dimana saya mendapatkan banyak kejutan. Diawali oleh Januari, yang kemudian akan ditutup oleh Desember. Kalau boleh meminta, saya ingin Desember memberikan saya dessert yang cantik. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, kalau saya sangat suka Desember. Saya menyukai Desember seperti saya menyukai hujan. Teman kecilku juga suka hujan. Dia pernah meminta hujan tanpa adanya badai. Ia hanya ingin hujan kecilkecil kemudian pelangi delapan warna. Saya juga ingin begitu. Mudahmudahan permintaan saya dan teman kecil saya terkabul.

Berbicara tentang kejutan di awal kalimat pembuka, kejutan pertama yang saya terima adalah tentang pahit. Saya jatuh sejatuhjatuhnya, kemudian seperti ada kekuatan yang mengangkat saya, perlahan. Meskipun ada beberapa hal yang akhirnya harus ditelan sendiri, saya beruntung bisa merasakan pahit, karena saya percaya bahwa tidak akan ada seorangpun yang bisa selalu menjanjikan kebahagiaan. Pahit itu akan selalu datang dengan bagaimanapun caranya. Lalu saya yakin bahwa saya akan menjadi lebih kuat ketika pahit itu berangsur reda.


Di hari ketika saya menuliskan katakata ini, saya sedang berjalan ke masa lalu, sebentar saja. Saya janji tidak akan berhenti lama di sana, karena saya akan segera berlari menuju masa depan. Masa depan sudah ditentukan. Tinggal menunggu jawaban dari Dia yang pernah berjanji untuk setia sampai pada akhir jaman.


Dua ribu sebelas, kamu baik. Saya bersyukur bisa bertemu kamu. Saya akan setia menunggu kejutan apapun yang kamu berikan dalam tujuh bulan ke depan. Sekarang saya sedang menikmati momen dimana manis itu datang. Semoga saya tidak terlena. Saya akan tetap fokus berlari menuju ke citacita dan segala hal baik di.semesta


Champions aren’t made in the gyms. Champions are made from something they have deep inside them – a desire, a dream, a vision. (Muhammad Ali)



Jakarta, 10 Mei 2011

Forgiveness

Saya suka khotbah misa dua minggu lalu, tentang sakit dan maaf. Romo berkata bahwa anakanak pasti pernah menyakiti orang tuanya. Orang tua juga pasti pernah menyakiti anaknya. Istri pernah menyakiti suaminya, suami pun pernah menyakiti istrinya. Semakin lama pasangan itu bersama dan semakin banyak umur manusia itu, akan semakin sering menyakiti dan dalam sakitnya. Maka jika kamu tersakiti, maafkanlah dia. Ingatlah bahwa kamu juga pernah menyakiti orang lain.

Saya pintar untuk menuliskan kembali khotbah Romo, yang saya lupa namanya, tetapi selalu bodoh untuk melaksanakannya. Menjadi bijak dalam hal sakit itu sulit. Berkalikali mengalami sakit, berkalikali pula berbuat benci.


Di semesta ini, kalau saya pernah menyakiti, artinya saya akan disakiti. Kemudian saya mengambil kesimpulan bahwa apa yang saya perbuat, maka itulah yang akan saya terima. Kalau begitu, saya tidak akan menyakiti, tetapi itu hampir mustahil.


Karena satu hal, yaitu ketidaksempurnaan.



Ojo lali sopo kowe, soko ngendi anggonmu asale. Ojo lali kudu eling. (Tony Q Rastafara)

Jakarta, 11 Mei 2011

Kangen

Saya kangen. Malam ini saya teringat akan hal itu. Saya duduk di café yang bersisian dengan jalan besar, tepatnya dekat dengan pemberhentian bus. Disana semuanya serba teratur, kecuali satu hal, yaitu sampah. Sampah bertebaran dimana-mana, sama seperti di sini. Yang membedakan hanyalah produknya. Di sana sampah yang bertebaran kebanyakan puntung rokok dan kulit permen. Di sini, segala jenis sampah bertebaran, seperti saya :p

Sebelum memutuskan untuk minum di café, saya masuk ke toko yang menjual beragam coklat dan cake, lalu memutuskan untuk membeli es krim coklat. Menghabiskan es krim coklat di pinggiran jalan, sambil berkhayal. Seandainya punya 1000 euro, saya mau tinggal di sini lebih lama lagi, lalu membeli berbagai jenis coklat yang ada di toko itu. Saya rasa toko itu pemiliknya orang Italia. Ah, siapapun pemiliknya, saya sangat suka dengan produkproduk yang dijualnya.


Di café, saya pesan Heineken satu botol, sambil menunggu bis yang akan membawa saya ke Engelberk. Saya kemudian diam, mengamati orang lalu lalang. Ada wanita muda cantik, pakai sepatu hak tinggi berjalan dengan langkah cepat. Wanita itu seperti wanita yang ada di iklan Mentos. Lalu ada perempuan berumur sekitar 18 tahun, membawa anjingnya jalan-jalan. Di sebrang, saya lihat kapal dengan orangorang yang sedang bersantap siang di dalamnya. Ketika itu Lucerne sedang musim panas. Panasnya tidak seperti di Jakarta. Matahari samasama terik, tapi anginnya cukup kencang dan dingin. Beberapa saat kemudian, saya ingat kamu. Kita sudah lama tidak bertemu dan saling memberi kabar. Saya kangen. Akhirnya saya memutuskan untuk menyapa kamu duluan dengan sisasisa pulsa yang ada, karena saya cukup mengerti tentang gengsimu yang tinggi. Saya hanya bisa dua kali kirim pesan, lalu pulsa habis. Saya buka dompet, mencari kepingan euro, dan menemukan beberapa. Saya kemudian melangkah ke telpon umum, memasukkan satu euro, lalu memencet nomor telponmu. Tersambung, tetapi tidak ada suaramu. Saya memasukkan lagi dua euro. Tersambung, tetapi suaramu tidak ada juga.


Kangen kali ini spesial. Saya kangen mendengarkanmu mengucap ‘Halo’.



Jakarta, 7 Mei 2011

 
 
Copyright © TITA
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com