Sunday, July 10, 2011

Tak Seperti Dulu

Menangis itu wajar. Normal. Ikhlas, legowo, tidak adil kalau hanya dilihat dari sudah tidak menangis atau masih menangisnya saya. Buat saya dan teman kecil saya yang penting adalah bangun. Saya hidup untuk masa depan, bukan masa lalu.

Terima kasih tamparannya, temanteman kecilku. Terima kasih bahasa langit kalian. Terima kasih waktunya malam itu, Jumat, 3 Juni 2011.


Di perjalanan, bahasa langit kalian berputar. Sampai rumah, saya basah. Sehari semalam, terkurung di kamar, lalu keluar. Merayakan keberhasilan : Saya Bangun.



Jakarta, 29 Juni 2011

*klik gambar atas*


Jogja Istimewa

Jogja! Jogja! Tetap istimewa. Istimewa negrinya, istimewa orangnya. Jogja! Jogja! Tetap istimewa. Jogja istimewa untuk Indonesia.

Dari jamannya mellow sampai galau, Jogja selalu ada di hati. Banyak kenangan yang diciptakan di sini. Selalu ada yang membuat saya ingin kembali.


Rungokna iki gatra saka ngayogyakarta. Nagari paling penak rasane koyo swarga. Ora peduli donya dadi neraka. Neng kene tansah edi peni lan merdika. Tanah lahirkan tahta, tahta untuk rakyat. Dimana rajanya bercermin di kalbu rakyat. Demikianlah singgasana bermartabat. Berdiri kokoh tuk mengayomi rakyat. Memayu hayuning bawana. Saka jaman perjuangan nganthi merdika.


Jagongan Wagen adalah satu dari beribu. Membuat Jogja Istimewa, paling tidak di hati saya.


Tambur wis ditabuh suling wis muni. Holopis kuntul baris ayo dadi siji. Bareng para prajurit lan senopati. Mukti utawa mati manunggal kawula Gusti. Menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan. Kesaktian tanpa ajian. Kekayaan tanpa kemewahan. Tenang bagai ombak, gemuruh laksana merapi. Tradisi hidup di tengah modernisasi, rakyate jajah deso milang kori. Nyebarake seni lan budi pekerti.


Pelataran Candi Prambanan. Digelar pertunjukan. Berfoto bersama pemain setelah Sendratari Ramayana selesai.


Elingo sabdane Sri Sultan Hamengkubuwono kaping sanga. Sak duwur-duwure sinau kudune dewe tetep wong Jawa. Diumpamakne kacang kang ora ninggal lanjaran. Marang bumi sing nglahirake dewe tansah kelingan. Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Holopis kuntul baris ayo dadi siji. Sepi ing pamrih, rame ing nggawe. Sejarah wus mbuktekake. Jogja istimewa bukan hanya untuk dirinya. Jogja istimewa untuk Indonesia. Holopis kuntul baris.



Jakarta, 29 Juni 2011

Tulisan yang bergaris miring adalah lagu yang berjudul Jogja Istimewa; Ditulis dan diaransemen oleh Kill The DJ & Balance; Rapper Crew oleh Ki Jarot (Kill the DJ-Jahanam-Rotra); Diproduksi oleh Jogja Hip Hop Foundation.

Bang, Bang, You’re Dead

Ini kebodohan yang memberi kebaikan. Nama perempuan itu adalah Saya. Saya ingin menghentikan nyawa.

Saya memiliki mimpi dibalik mimpi. Saya menyukai manusia yang mempunyai pemikiran yang beda. Rumit? Aneh? Itulah Saya.


Anggaplah Saya sudah tidak berada di semesta. Saya tidak akan pernah bertemu dengan pasangan hidup Saya yang sudah disiapkan. Dia yang setia; perhatian; baik budinya, akalnya. Setia yang tidak hanya diartikan untuk tidak selingkuh, namun juga setia dalam suka, duka, sehat, sakit.


Nyatanya Saya ingin cepat bertemu seseorang, yang disebut dengan pasangan hidup. Dimulai dengan sebuah jabatan tangan. Lalu bergandengan, menuju sebuah altar suci. Di sebuah kapel, lampu gereja dimatikan, lilin dinyalakan. Diiringi paduan suara gereja, dihadiri keluarga, disaksikan Dia.


Akhirnya Saya bangun. Saya banyak bermimpi. Saya banyak punya citacita. Saya ingin membuat bahagia; orang tua, teman, sahabat, saudara, siapapun yang Saya tidak kenal namun Saya sayang mereka. Menyadari bahwa hidup di semesta adalah sebuah keajaiban. Saya masih menyimpan keinginan untuk melanjutkan sekolah di Amerika, ingin terus latihan yoga, ingin mendapatkan remunerasi dari dua sampai tiga digit, ingin menciptakan lapangan pekerjaan. Saya selalu rindu tersenyum melihat kebahagiaan sesama, berbuat sebanyakbanyaknya kebaikan, memberi sebanyakbanyaknya kemampuan. Saya ingin menjelajahi bagian Timur Indonesia. Saya ingin tersesat di Australia. Saya ingin mencicipi hangatnya matahari Hongkong, Thailand, Kinabalu, Sabang, Medan, Riau, Bangka Belitung, Aceh. Saya ingin memiliki sertifikat menyelam. Saya ingin memiliki banyak keberanian dalam menghadapi keseruan hidup, passion.


Semua itu tidak akan pernah ada, kalau Saya menghentikan nyawa, mengakhiri semua. Sebab jika Saya mati, Saya tidak bisa memencet tombol restart dan tidak lagi bisa mengulanginya dari awal.



Jakarta, 28 Juni 2011

Bang, Bang, You’re Dead, Teater Salihara, Sabtu, 25 Juni 2011. Special thanks to

Eduardo Kukila Aji. (http://bit.ly/mzGd7g)

Monday, July 4, 2011

Tentang Selingkuh

Duduk diam, menunggu waktu. Saya buka twitter, lalu menemukan ini : Lima Pelajaran Penting Tentang Selingkuh (MetroTV Mobile, Jumat 24 Juni 2011, 17.39 WIB). Artikel yang menarik untuk dikonsumsi di sore hari. Saya retweet lalu saya buka link-nya.

Pertama yang terlintas adalah, kok mau selingkuh, kok ada yang bilang selingkuh itu indah, kok dia bisa selingkuh sampai berkalikali, kok mau diselingkuhi, kok mau jadi selingkuhan. Lalu saya mendapati ini : Orang sering salah kaprah menganggap bahwa hanya mereka yang kaya, banyak uang, atau yang berkarakter bad boy saja yang berselingkuh. Padahal mereka yang bersikap santun, pendiam, dan selalu tersenyum ramah juga bisa melakukannya.


Selingkuh itu bisa menyebabkan trauma bagi sebagian orang. Trauma menatap mata dia yang disayang, trauma bergandengan tangan di tempat umum sambil mengeluarkan kata sayang berkalikali, trauma ke suatu tempat bersama dia yang kelak membuat banyak kenangan disana. Trauma. Kamu yang mengalami trauma, kamu perlu tahu ini : Pernah diselingkuhi, kecewa, kemudian enggan membuka diri lagi adalah sebuah hal yang siasia. Beranikan diri membuka hati dan jalin hubungan baru.


Kalau kamu belum berhasil ditampar dengan kalimat itu, artinya kamu harus mengeluarkan kemampuan maksimalmu untuk menampar diri kamu sendiri. Hidup tidak melulu tentang dia yang selingkuh. Kamu tidak pantas dungu seperti saya. Bangun !!



Jakarta, 25 Juni 2011

Warna

Kembali di angka lima. Di mana saya hanya tahu bermain dan bermain. Kirakira begini aktivitas saya : bangun tidur, mandi, makan, lalu diantar Pak Didik ke sekolah. Pulang sekolah ganti baju, bermain, tidur, mandi, makan, bermain, tidur lagi. Di angka tersebut saya suka sekali bermain. Congklak adalah permainan kesukaan saya di sekolah. Setiap istirahat, saya hampir selalu bermain congklak dengan Yenovita Hutauruk. Saya panggil dia Enop. Kami berteman hingga SD. Setelah itu kami berpisah. Saya melanjutkan ke SMP St. Fr. Asisi, dia entah ke mana. Kemudian kami bertemu lagi di facebook, dan ternyata kami satu almamater di Universitas Perjuangan. Enop sudah punya anak, mungkin dua.

Banyak kenangan di angka lima. Saya ingat pernah diberi 50 rupiah oleh kakak, dan dia mengantarkan kepingan itu dengan naik sepeda dari rumah. Kepingan itu dia titipkan ke penjaga sekolah, namanya Pak Mardi. Akhirakhir ini saya sudah tidak pernah bertemu beliau. Semoga saja dia selalu dalam keadaan yang sehat. Biasanya kami bertemu di Gereja. Saya kangen. Pak Mardi adalah penjaga sekolah kesayangan saya. Dia selalu senyum, kapan saja dan di mana saja. Bahkan ketika mengepel lantai sekalipun. Hidupnya selalu dihadapi dengan senyum. Saya ingin seperti itu. Namun, pelaksanaanya selalu bodoh. Apalagi kalau sedang ada masalah. Saya memang harus banyak belajar dari Pak Mardi.


Di angka ini saya masih menjadi anak baikbaik. Ikut paduan suara sekolah, dan menjuarai berbagai lomba paduan suara. Kalau kamu tidak percaya, bisa lihat pialanya di rumah saya. *eh, sombong sedikit :p*


Masih di angka lima. Satu hal yang ingin saya ceritakan di angka ini adalah pelajaran mewarnai gambar. Suatu ketika saya pernah tidak membawa pensil warna atau krayon. Saya tidak berusaha pinjam teman. Mewarnai hanya dengan memakai pensil, pensil raut. Jadilah hanya hitam, dan putih.


Semoga saja ini bukan semacam pertanda. Saya tidak mau hanya hidup dengan warna hitam dan putih. Saya ingin merah, saya ingin kuning, hijau, ungu, biru. Saya ingin oranye.

Jinsei wa iroazayakada : hidup itu penuh warna.



Sedang tidak menulis dengan hati, melainkan dengan mata yang sedang keringkeringnya. Mungkin sedang dalam masa peralihan, pahit ke manis. Mungkin juga gugur ke semi. Apapun itu saya akan selalu belajar mewarnai. Belajar mewarnai itu penting. Lalu lagu di windows player saya terhenti di Boyz II Men : So Amazing.


Jakarta, 19 Juni 2011

 
 
Copyright © TITA
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com