Saturday, October 8, 2011

Melati


“Hold on your dream tight, dek. It does come true. Hold it tight. We owe our dream to make it comes true.”

Saya : Mba, kamu masih ngajar di taman kanak-kanak dan Melati Taman Baca?

Dia : Aku udah ndak sering ngajar lagi dek. Waktu luangnya udah ndak banyak kayak dulu. Aku kan interpreter di UN udah lama dan market research. Jadi schedule nya beredar terus. Kangen ngajar padahal.

Saya : Oalah, kamu tuh interpreter. Pantes.

Dia : Kalo di conference hall PBB kamu liat ada booth di atas yang kaca semua dan orang-orang pakai headset gede, nah itu pekerjaan aku.

Saya : Stres ngga?

Dia : Stres kalo pas pada pake bahasa daerah. Kalo lagi out stations ke daerah-daerah. Atau kalau pas riset FGD satu grup 8 orang dan respondennya pada rebutan ngomong bersamaan dan ketawa menjerit. Migrain abis.

Saya : Seru !! cool !! aku juga suka baca tulisannya Mba Virgi. Dia penulis di Garuda Indonesia Inflight Magazine ya. hebat. Aku dikelilingi orang-orang hebat. Seneng. Jadi inspirasi buatku.

Dia : Iya dia reporter di majalah Garuda. Me? Nothing.

Saya : Nggakkk. Ihh mba mels gitu ya. suksess terusss pokoknya.

Dia : Hold on your dream tight dek. It does come true. Hold it tight. We owe our dream to make it comes true.

Saya : Amen. I will.


Imogiri, Jogjakarta, 30 Agustus 2011

Tika’s Marriage


Restoran Indus, Ubud, Oktober 2009. Di Ubud Writers and Readers Festival saya bertemu kamu. Pada waktu itu kita adalah partner di pelatihan penulisan skenario film untuk anak-anak SMP. Skenario film kan? Semoga saya tidak salah. Kita sempat mengobrol sebentar, lalu menjalankan tugas kita masing-masing.

Restoran The Pond, Ubud, Oktober 2010. Saya lihat kamu dengan Mas Gobind sedang menuju lantai dua – tempat dimana Poetry Slam berlangsung. Mungkin kamu baru saja datang. Sedangkan saya hendak meninggalkan acara.

Sejak kenal, kita jarang melakukan kontak. Tapi saya masih tetap ingat kamu. Mudah-mudahan kamu pun begitu. Sampai di suatu siang, di hari ke-29, saya mendapati sebuah link. Lalu saya buka, dan baca.

Secara sadar, saya melakukan kicauan di twitter. Begini bunyinya:

a.     Konsep nikah yang unik. Namanya Mba Tika. Asal Surabaya, tinggal di Bali. Saya kenal dia dua tahun yang lalu. #Tika’sMarriage

b.  Mba Tika dan calon suami mengagumi Gandhi. “I first learned the concepts of non-violence in my marriage”, Gandi’s quote. #Tika’sMarriage

c.    Lalu mereka memutuskan, dua Oktober yang adalah ‘The World’s non Violance Day’ menjadi sebuah hari dimana mereka merayakan hidup sebagai suami istri. #Tika’sMarriage

d.      Mereka merayakan kebahagiaan di pantai dengan jamuan makan pagi, buah-buahan lokal dan makanan vegetarian lain. #Tika’sMarriage

e.  Mereka bilang, “Sunrise is chosen to match our usual greeting, Good Morning”. Dan ini adalah pernikahaan yang siapapun boleh datang. #Tika’sMarriage

f.   Sekalipun mereka yang lagi jogging, dipersilakan datang dengan menggunakan kostum lari paginya. Bahkan yang lagi pakai sarung, dipersilakan juga. #Tika’sMarriage

g.     “Some friends will lead yoga session, you’re welcome to join them. Some will play saxophone, please sing and entertain us all”. #Tika’sMarriage

h.    “We invite spiritual leaders, groups & our fellow social workers to join us. We’ll pray for everlasting peace on earth”. #Tika’sMarriage

i.        Suvenirnya: kalender dengan isi 366 quotes tentang ‘Awareness & Happiness’. Kamu bisa dapetin itu dengan dua syarat: 1. Datang ke sana meski sebentar. #Tika’sMarriage

j.     2. “Repay the nature by accepting a little tree and promise to plant it”. Kenapa repay? Karena kertas sudah mengambil kehidupan dari sebuah pohon. #Tika’sMarriage

k.  Mereka menyediakan kesempatan melakukan donasi yang akan ditujukan untuk ‘Humanitarian Programs’. Cek : tikagobind.wordpress.com. #Tika’sMarriage

l.   Menurut saya, konsep ini unik. Dua Oktober, Sanur, Sunrise, Non Violance Day. Nice J. #Tika’sMarriage

m.    Untuk lebih merasakan kebahagiaan mereka, kunjungi : tikagobind.wordpress.com #Tika’sMarriage

Jika tidak berhalangan, saya akan hadir. Merasakan kebahagiaan kalian.


Imogiri, Jogja, 29 Agustus 2011

Moslem


Saya : Papaku lebaran besok. Artinya Muhammadiyah ya? ga ngerti kenapa lebaran bedabeda.

Dia : Ada dua cara menghitung mulainya suatu bulan. Yaitu dari nampaknya bulan terlihat mata (rukyat) atau dari letak bulan sudah dua derajat di ufuk walaupun belum terlihat mata, yang ibi bisa dihitung dari kapan dimulainya puasa (hisab). Sedangkan pemerintah dengan rukyat. Muhammadiyah memilih pakai hisab. Tergantung keyakinan aja mau ikut yang mana. Gak ada yang salah dari keduanya. Yang jelas keduanya didapatkan dengan ilmu yang jelas dan diajarkan Rasul. Santai sih. Dari sejak negeri ini belum proklamasi juga udah kadangkadang beda.

Saya : Oo, selama ini aku tau kalau lebaran bedabeda. Yang satu Muhammadiyah, satunya NU. Keluarga besarku begitu. Pasti bedabeda. Tapi ga tau kenapa sebabnya. Makasih infonya ya.

Dia : Sip. Seneng bisa jelasin ke Gita.

Saya : Ada satu hal sih yang bikin aku bingung. Di keluarga besar papaku, yang nonmuslim itu aku, kakak, sama mamaku. Yang lain muslim semua. Nah, ada satu adek sepupuku umur Sembilan tahun nanya terus, “Mba, kamu kok ngga puasa?”. Terus dijawab sama mbakmbak yang bantu disini, “Iya, mbak tita kan beda”. Eh dia nanyananya lagi. Dan aku bingung jawabnya gimana. Hee. Setiap dia nanya, aku ketawaketawa aja.

Dia : Hee. Ya bilang aja kali. Mbak tita agamanya Kristen, jadi puasanya ngga sekarang, di waktu yang lain. Terus lebarannya bukan pas Idul Fitri, tapi pas natalan. Dari kecil harus diajarin ngerti sama perbedaan, supaya gedenya ngga anarkis.

Saya : Iya ya. hmm. Makasih.

Dia : Banyak yang ngga ngerti kalau Islam itu juga cinta damai dan penuh kasih juga seperti halnya yang diajarkan Kristen. Tapi segelintir orang ilmunya dangkal, ikutikutan dan cuma buat cari perhatian, bikin nama Islam jadi rusak dan dianggap anarkis teroris.

Saya : Aku juga kadang kepikiran, misal FPI ngerusak inilah itulah. Mereka mengatasnamakan agama, tapi kelakuannya begitu.

Dia : Itulah. Semua agama mengajarkan pengikutnya dari sebelumnya buta menjadi orang yang beradab. Ini malah begitu. Kadang kecewa, yang kayak gitu kok dibiarin aja sama pemerintah.

Saya : Kalau mereka yang ngga mau jabatan tangan sama beda muhrim, apa bisa dibilang fanatik? Apa kalau jabatan tangan sama beda muhrim itu dosa?

Dia : Itu bukan fanatik sebenernya. Itu perbedaan dalam menjalankan hadis (perkataan Rasul). Ada hadis yang menyebutkan : menyentuh yang bukan muhrim itu ganjarannya disentuh api neraka. Karena apa yang kita sentuh bukan hak kita. Menjadi hak apabila sudah menikah. Tapi ada hadis yang menyebutkan boleh menyentuh asalkan tanpa ada syahwat (perasaan nafsu). Rasulullah Muhammad sendiri juga ngga pernah menyentuh wanita yang bukan muhrimnya. Muhrim itu : ibu, kakak, adik, istri. Bahkan saudara sepupu pun bukan muhrim.

Saya : Oh gitu. Noted. Makasih banyak infonya.

Dia : Sip. Anytime.


Imogiri, Jogjakarta, 29 Agustus 2011

Metatah


 Saya : Metatah tuh apa ya?
Dia : Potong gigi.

Saya : Serem ngga?
Dia : Engga.
Saya : Aku mau ikutan liat. Mudahmudahan pas aku disana dan bisa.

Saya : Metatah buat foto juga kaya orang nikahan?
Dia : Iya. Biar eksis :p

Saya : Ehhh aku penasaran kok metatah bisa buat foto juga kaya pre-wedding? Buat apa? Apa gunanya?
Dia : Buat pasang di undangan.

Saya : Hah? Pake undangan juga?
Dia : Ya iyalah tita. Kan ngundang-ngundang.

Saya : Metatah tuh perayaan gitu ya? emang potong gigi itu maksudnya biar apa?
Dia : Iya. Kalau metatah juga ngundang tementemen. Orang yang abis metatah, biasanya giginya rata. Potong gigi itu pelaksanaannya ngikir gigi. Biar sad ripunya ilang (sad ripu : 6 sifat buruk yang ada di diri manusia). Biasanya gigi taringnya yang dikikir.

Saya : Trus besok foto dimana?
Dia : Di Art Center. Hee. Besok berias mulai setengah lima pagi.


Imogiri, Jogjakarta, 29 Agustus 2011

Talking to The Moon


 Blackberry Messenger : Received Sun 01.42

Dia : Udah nyampe Jogja? Baru nyampe? Envy. Salam buat anak-anak Jogja.
Saya : Heh kamu. Iya, udah nyampe.
Dia : Bete tingkat tinggi. Males tudepol.
Saya : Kan di sana berempat.

Dia : Tiba-tiba merasakan sedih sendiri. Bosan.
Saya : Kenapa tiba-tiba sedih?
Dia : Sepertinya aku orang bodoh di dunia ini.
Saya : Baru jam tiga lho. Mestinya waktunya seneng-seneng. Kalo mau sedih, jam 12 aja.

Dia : Aaaa tita..
Saya : Lagi mabuk ngga si?
Dia : Gak kok. Aku lagi duduk di toilet. Tiba-tiba perasaan ngga enak.
Saya : Kamu kenapa?

Dia : Mungkin karena hari ini memaksakan untuk senang. Jadi ini puncak-puncaknya sedih datang. Pengen mukul-mukul diri sendiri.
Saya : Tenang. Mending nangis sambil mukul-mukul tembok. Nangis gih.
Dia : Iya tita. Sumpah. Tempat ini rame tapi bikin aku sepi.
Saya : Keluar dari situ. Jangan minum. Pindah ke tempat lain. Teriak.

Dia : Iya iya.
Saya : Daritadi ngga minum, atau sempet minum? All is well, all is well.
Dia : Sempet minum. Gak tau nih. Sepertinya ini bukan saya.
Saya : Itu kamu. kenapa bisa bilang itu bukan kamu? Pelan-pelan, dirasain aja.

Dia : Pengen pergi dari kota ini.
Saya : Itu namanya pelarian. Dan ga baik. Face it! Bisa kok bisa. Percaya deh. Apapun yang terjadi, semua ada alasannya. Dia udah nyiapin sesuatu buat kamu. Menemukan itu adalah proses kehilangan. Dan kehilangan adalah proses menemukan. Yang kuat ya. I feel you.
Dia : Iya tita. Saya baik-baik saja. Setiap hari itu ada pelajaran.
Saya : Iya. Semoga semua baik-baik. Pulang gih, istirahat.

Blackberry Messenger : Sent Sun 09.45

Saya : Pagiii..
Dia : Pagiii…
Saya: Masih hidup kan?
Dia : Baru membuka mata. Hee.

Saya : Kemarin jadinya gimana? Jadi mukul-mukulin diri sendiri? Atau nangis? Keppoo. Lagian baru sekali ini liat kemu ngedrop banget.
Dia : Kemarin aku hanya butuh beberapa menit di tempat sepi. Berpikir, buang napas, selesai. Aku bisa ! Tapi kemarin itu bener-bener susah banget. Sampai segitunya. Trus jam lima aku di McD, ngobrol sama semua orang yang hubungi aku di twitter, fb, ym, bbm. Ngomongin apa kek. Akhirnya siap kembali.
Saya : Hebat ! Gitu doang? Ya bukan doang sih. Tapi ngangkat diri sendirinya cepet banget.
Dia : Ya dibuat menjadi tidak apa-apa. Harus bisa pasrah, tapi harus bisa memaksakan diri ke zona nyaman.

Saya : Iya. Prosesnya aja yang beda. Intinya sama: ‘bangun’. Prosesku lebih rumit. Ngeliat kamu kok gampang banget.
Dia : Mungkin karena aku orang ‘bodoh’.
Saya : Ngga.
Dia : Polos-polos bodoh. Polosnya bodoh. Baiknya bodoh.
Saya : Hmm, mungkin kamu begitu. Terlalu baik. Tapi jadi orang baik juga ngga salah. Semoga kamu semakin baik. Selamat hari Minggu.


Imogiri, Jogja, 28 Agustus 2011.
 
 
Copyright © TITA
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com